monolog blog

amarah


Sering kan liat di fb seorang ayah berpose dengan putrinya? Jika itu bukan momen spesial ngga mungkin dishare. Ngga mungkin kan share pas lagi luluran [koq luluran seeh? Apa coba] .

Waktu putra saya masih kecil, suatu waktu kami ke hyperstore, bundanya antri di kasir, setahu saya putra saya mengekornya.....tiba-tiba hilang. Wuih deg-degan kami saat itu, mondar-mandir tanya satpam sembari mencari. Ternyata putra saya berada pada suatu lorong kasir lain entah melihat-lihat coklat.

Kehilangan anak itu benar-benar menghawatirkan. Pernah saya ke masjid istiqlal lalu ada pengumuman seorang anak telah hilang. Area seluas ribuan meterpersegi itu pastilah sulit. seorang ibu bisa pingsan malah gila jika anaknya meninggal. Dulu saya rela tidak jajan demi membeli “hotwheel” untuk putri saya.

Suatu waktu saya pernah menyebrang jalan, lantas dua anak smu yang merasa sepeda motornya terhalangi berkata pada saya “heh monyet”, saya kaget dan kesal, dalam hati bergumam “kalo niat, saya tubruk motor ente, rasain kepala ente pecah ke trotoar”.

Jika perbuatan itu saya lakukan dan anak itu luka parah, bagaimana yaa perasaan ibunya?
Jujur hingga kini saya masih belajar menata emosi di jalan raya. Kadang saya berpikir “bisa ngga ya kita itu selalu ingat bahwa semua anak di jalan raya itu dicintai ibunya?, semua pengendara motor itu pencari nafkah keluarga, ditunggu istri, anaknya atau dirindu selingkuhannya....eh.

Jika kita selalu berpikir seperti itu mudah-mudahan kita akan berpikir seribu kali untuk melukai seseorang....apalagi janda xixixi

indah adanya

Tahun 1999 teman seangkatan mulai tercerai berai, ratusan mahasiswa hanya segelintir yang akrab. Kampus menjadi surganya adik kelas. Alumni memang tidak dilarang mondar-mandir di ruang organisasi tapi malu kan, ketua senat sudah bukan teman seangkatan.

Jika anda kuliah lantas pulang, mungkin biasa saja tapi jika aktif di berbagai organisasi say hai sana-sini bahkan saat mahasiswa lain dilarang parkir di dalam kampus anda bisa parkir dimana saja, para senior pun tidak mempertanyakan toh saya mengenal dan dikenal mereka.
Mungkin itulah rasanya eksistensi

Giliran sahabat saya terpilih menjadi ketua senat yang adik kelas itu menawarkan “kamu bisa aja aktif lagi, sok mau jabatan apa?”, “no way, ngapain cari kecengan?” saya menjawab. Organisasi pecinta alam, walaupun alumni tapi masih bisa aktif membimbing adik-adik kelasnya.

“Ya udah ikut saya aja yu kalo ada acara out door” ajaknya. Pacarnya yang berbeda keyakinan itu memang cantik putih pirang asli dan salah satu sahabatnya ada yang menarik.

Kami biasa pergi berlima, saya, kawan saya dan tiga gadis itu. Sejuknya Bandung utara dan gadis yang menarik itu tidak bisa menyegarkan hati saya yang baru saja “broken heart” ciyee, padahal saya sudah mencoba, jalan bareng dan kadang menjemputnya kuliah.

Perasaan kesepian di kampus ternyata dirasakan oleh sahabat smu saya yang beda kampus. Kurang lebih dulu sahabat saya bicara begini “kadang saya berdoa lho Riz, yaa Allah buat saya hepi deh saat ini, tau ngga? beberapa lama kemudian sahabat saya datang dengan muka cengengesan”.

Sekitar tahun 2013 saya bertukar buku psikologi saya dengan buku “hadist qudsi” milik kawan kerja, saya baca sebelum tidur lalu ada sebuah hadist kurang lebih begini

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)


Senyum itu sederhana namun bisa luar biasa jika kita melihat sahabat atau seseorang yang kita cintai tersenyum pada kita...yah perlu belasan tahun untuk mengetahui perihal senyum.

Gadis itu pun ramah...sayang saya tidak peka malah hati saya memberi tempat untuk seseorang yang tak pantas dikenang..., bener lho kadang saya nyesel duh gadis secantik itu kenapa di sia-siakan, jika dulu sempat begini-begitu mungkin cerpen ini akan lebih panjang yaa? Apalagi saya mendengar kabar dia telah menjadi pramugari wow...saya ingat betul waktu ke undangan bersamanya dia mengenakan rok satin abu berhias brokat kontras sekali dengan bening kulitnya dipadu dengan atasan putih nan anggun dan rambut panjang tergerai kecoklatan. Jika ingat masa itu pengen deh ngegendong..yeee.

Tapi jikapun dulu sempat membina hubungan lalu kandas mungkin hanya menambah rekaman kepedihan saja. Bloonnya saya dulu bagai “aikatsu” saat menelpon misalnya “eh, mau kemana hari ini?” dia menjawab “mau berenang” lalu saya hanya bilang “oooh”.. bukannya ikut yaa?

Sekarang entah seperti apa kawan-kawan saya keadaannya kini, inbox sunyi tanpa respon.
Padahal saya ingin sekali reuni tapi kadang heran, orang itu dikomen, dilike tetap no respon, apa karna tersinggung sama status saya?atw lupa password xixi

Mau pake motor, mobil baru/bekas, jalan kaki, punya rumah, ngontrak, kerja, phk, nganggur ...pliz deh kalo bisa pelihara persahabatan itu.


Mungkin ada pendapat “ngapain nginget masa lalu”...saya hanya relax diantara rutinitas disiplin kerja, hiruk pikuk politik dan toleransi antar golongan di republik ini.
Jika  saya menghiasi otak saya dengan memori-memori indah maka alam bawah sadar saya akan selalu bersyukur bahwa hidup ini indah adanya.




Sahabatmu pernah bilang “apa yang kamu lakukan mungkin biasa untukmu, tolong jangan permainkan perasaan”
Ampun, maaf cantik

Katanya wanita diciptakan saat Tuhan tersenyum
Sungguh bodohnya aku mengabaikan senyummu
Mungkin  yang kita lewati hanya episode yang tak kau inginkan
Tapi aku mengingatnya hingga kini sayang

Bisa-bisanya hatiku sekeras mahoni
Tak bisa menghargai orang sederhana sepertimu
Aku terlampau malas untuk mengais hatiku yang berantakan
Padahal jika saja aku bangkit setidaknya aku akan tertawa denganmu

Tuhan? Apa maksudnya diperlihatkan tapi sepintas?
Apa artinya dipertemukan tapi dipisahkan?

Kulitmu yang putih sempurna
Tubuhmu yang indah merona
Memang pantas untuk seseorang yang benar-benar menghargai dirimu
Terbanglah sayang, hatiku terlalu busuk untuk kau kenang

Jelajahi indahnya dunia
Semoga sayapmu terus mengayun anggun.....

crazy for you

crazy for you

Waktu sd dulu aku ingat persis jika menyukai seseorang, selalu memperhatikan dimana posisi dia berada. Setelah kutemukan kuperhatikan tempat pinsilnya, tasnya dsb ^_^, sorenya aku tak akan pulang sebelum melihat dia tersenyum atau menyapa di tangga penyebrang jalan. Aku masih ingat namanya....i....


Suatu siang aku berkunjung ke sekolah dasar untuk sebuah urusan, menunggu cukup lama di lantai dua di depan ruang guru. Jika siswi lain berlarian masuk kelas, lain dengannya yang berjalan tenang menyusuri lorong kelas, sekali menatapku yang asing lalu menoleh pada temannya dengan kalem.


Di kotaku siswi sd berkostum rok putih setumit bercorak batik dipadu dengan sejenis kebaya sederhana berwarna senada pula. Sejuk semampai rambut panjang tergerai dengan kening putih rata dia terlihat berbeda ditambah dengan postur lebih tinggi dibanding sebayanya.


Bukan berarti pendiam, dia normal bermain bersama teman-temannya hanya saja saat yang lain teriak-teriak dia bermain hanya dengan tersenyum. aku pikir dia lebih dewasa bahkan anggun dibanding beberapa pengantar yang berambut kuning dan berkostum ketat itu.

Menunggu menjadi menyenangkan karna ada gebetan? ^_^, sungguh siang itu membuatku tersenyum, mengembalikan masa indah kecilku

I’m crazy for you...



manja

Waktu sma sekitar tahun 90an kawan-kawan saya bisa disebut kalangan mampu. Yang namanya rumah ya terdiri dari beberapa kamar, ruang makan/tamu, garasi dst. Ada yang tinggal di tengah kota, komplek-komplek dan ada juga di kawasan elit dengan bangunan gaya Belanda dengan pohon-pohon besar nan rimbun.

Kawan-kawan saya pada umumnya pelajar dan profesi ayah mereka kebanyakan pns, tni, polri dan sebagian lagi pedagang. Jika berkenalan pertanyaan yang umum itu “sekolah/kuliah dimana?”

Tahun 2006 saya menikah, mengontrak rumah petak atau bahasa kerennya rumah studio, ruang seluas 2,5m x 6m disekat tiga, ruang tamu, tidur dan dapur berhimpitan dengan kamar mandi nan sempit. Perbulan sewanya rp 250rb. Setahu saya bukan kontrakan murahan kan untuk ukuran saat itu?.

Ada enam petak, paling ujung digunakan warung lalu pengontrak sebelahnya pekerja serabutan yang entah apa kerjanya setahu saya hanya mancing dan mancing. Lalu petak sebelahnya dihuni pria berusia 50an dengan istri keduanya yang berusia 20 tahunan dan sebelah saya pekerja serabutan ngakunya montir.

Sepeda motor “grand” saya diservis karbu olehnya tapi akhirnya baut leher angsa malah slek/dol lalu saya meminta tolong padanya untuk menganti anting-anting shock belakang malah lecet dan tidak berhasil dibuka dan terakhir “blitz” saya baut casingnya patah karna terlalu keras dikencangkan. Pantas saja dia di phk dan susah mencari kerja karna kerjanya tidak profesional.

Anaknya tiga, dua putra dan satu putri. Putri/si bungsu seringkali menangis di malam hari, kata istri saya sepertinya anak itu kelaparan. Tempat jemuran baju berada di depan pintu petak sehinngga saya bisa mencium mana baju yang dicuci dengan detergen atau hanya direndam air saja. Saat istrinya mencuci saya tidak melihat ember, baju itu dicuci dan dibawa dengan kantong plastik, pantas saja di petaknya tidak ada ember. Tidur diatas tikar bukanlah lirik lagu dangdut tapi kenyataan bagi mereka.

Istrinya lulusan kuliah, entah bagaimana bisa hidup seperti itu. Syukurlah setelah beberapa lama dia diterima menjadi guru honorer pada sebuah sekolah tehnik.

Saya dilahirkan pada sebuah keluarga berkecukupan namun karna berkecukupan maka wawasan saya begitu-begitu saja. Saat usia 30an saya baru rajin membaca buku-buku misalnya, menulis atau membuka situs-situs agama misalnya. Padahal banyak di luar sana contohnya kawan saya yang semasa kuliah tidak dibiayai orangtuanya tapi tetap semangat rajin belajar mendalami ilmu elektronika. Saat orang lain masih buta dengan play station2, dia sudah bisa menservisnya, saat orang lain bisa servis play station2 dia sudah bisa menservis play station3 dan terakhir dia sudah bisa menservis led tv.

Tahun 2000an saja kawan saya sudah berani mengontrak kios di pusat elektronik di kota Bandung dan namanya sudah dikenal lalu sudah mampu mencicil “ford ranger”
Kawan saya berujar “kata siapa cari pekerjaan itu susah? Peluang itu banyak, yang susah itu jika skill kita pasaran alias orang lain juga banyak yang bisa sehingga banyak saingan”.
Kawan saya tukang servis itu sekarang sudah memiliki dua rumah, yang satu digunakan orangtuanya dan satunya untuk dia dan istrinya.

Memang ada anak yang dilahirkan di keluarga mampu lalu meneruskan usaha ayahnya misalnya dengan sukses tapi pada umumnya anak yang dimanja itu malah jadi selektif/gengsian dalam memilih kerja.

Saya pernah berkenalan dengan seorang jemaah komunitas agama tertentu yang dikenal nyeleneh karna meninggalkan keduniawian/keluarga demi mengajak/berdakwah pada sesama, dia berkata “harusnya seorang sarjana itu minimal mampu menyelamatkan diri sendiri”, wow sederhana kalimatnya namun mengena. Ternyata dia seorang mahasiswa S2.

Kemiskinan, keterbatasan, kesusahan harusnya menyadarkan kita yaa? Untuk hemat, kuat, peka terhadap lingkungan. Contoh nyatanya banyak generasi orang tua kita dulu yang lahir tahun 30,40an merantau lalu mampu membangun usaha, membeli rumah membiayai ongkos ibadah haji orang tuanya, berbeda sekali dengan generasi anaknya sudah disediakan tempat usaha, disekolahkan eh usahanya begitu-begitu saja bahkan mencari seribu alasan dengan berujar tempat tidak strategis lah, banyak saingan, bbm naik dsb.

Yah menyalahkan keadaan memang mudah dibanding memperbaikinya.

used mountain bike

used mountain bike
MY MOUNTAIN BIKE

Specification:
Brand                            : Carribou
Manufacturer  state       : Taiwan
Frame                            :  Alloy
Rims                              :  Alloy 26”
Shifter                            : Shimano v brake(rp 200.000/set)
Front deraileur               : Shimano tourney
Rear deralieur                : oem
Tire                                 : united semi slick(rp 50.000/pcs)
Pedal                               : united (rp 50.000)
Sadel                                : pacific (rp 60.000)
Color                               : red burgundy metalic
Hand grip                        : polygon, rp 30.000


That bike was bought only rp 400.000
Self painted  using electric compressor and hand sprayer.
Red burgundy color paint ¼ litres cost rp 40.000
Thinner 2 litres cost rp 16.000/ litre
Clear/coating paint ¼ litres cost rp 40.000
Harderner liquid ¼ litres cost rp 25.000.


I have no oven painting room, that bike was painted  on outdoor at 8-10 am, medium  temperature environment 28-32 celcius with tropical sunshine.
The critical phase of painting bike, car, motor cycle are we should mix the paint properly no more no less. Use white color as a base color, if we do not use white color/bright color as a base color then the color will not appear sparklingly, blinkingly and perfectly.

Day 1 : rubbing the frame with sandpaper number 6000
Day 2 : painting base color (but I did’t do it ^_^)
Day 3 : painting fist layer main color
Day 4 : painting second layer main color
Day 5 : painting clear/coat color

Break for a week then waxing with compound or wax.







romantika bekerja

Pengangur dapat pekerjaan, seneng banget kan? Yang tadinya ngga ada acara, teman/kecengan/uang, tiba-tiba jadi sibuk, tentu dengan segala resikonya. Jika seorang lajang, mungkin upah pertamanya sebagian diberikan pada bunda tercinta/adik tersayang atau mentraktir teman. Upah bulan-bulan selanjutnya bisa jadi berani mencicil ponsel/motor bahkan rumah jika memungkinkan. 

Yang tadinya tampil alakadarnya karna tuntutan pekerjaan maka perlu baju baru, tas hingga jam tangan misalnya. Jika kebetulan orangtuanya mampu, maka upah itu bisa 100% masuk kantong pribadinya. Mungkin mulai pd untuk pdkt, ngajak jalan makan dsb. Jika seorang pekerja bertahun-tahun melajang tidak ada keinginan untuk menikah..sayang sekali, biasanya lajang mengelak “ah, belum ketemu yang sreg”. 

Nanti pada suatu waktu adakalanya, jalan-jalan, shopping, dating terasa membosankan. Bahkan setelah berkeluargapun adakalanya menghadapi “gajian” tidak bersemangat, bisa jadi karna banyak utang?, atau uang tidak pernah berbekas pada hal yang bermanfaat. 

Kesimpulan saya saat ini mengapa kita biasa-biasa saja menerima uang? Bisa jadi, pekerjaan kita membosankan/tidak menambah kualitas dalam berpikir misalnya, pekerjaan kita tidak mendekatkan kita pada Sang Pencipta bahkan pekerjaan dijadikan alasan untuk meninggalkan/melalaikan kewajiban salat misalnya atau pekerjaan kita mengajak orang untuk berhura-hura/merusak kesehatannya. Memang dengan uang kita bisa sedekah tapi mencari uang dengan tergesa-gesa dan marah-marah malah hidup tidak tentram walaupun uang datang begitu derasnya. 

Bumi ini ladang amal, waktu dan kesehatan itu amanah. Jika kita selalu fokus untuk membahagiakan diri sendiri maka kita akan kehilangan eksistensi, kenapa? Karena orang lain tidak merasa dibantu oleh kita, membantu idealnya materi dan rohani. Jika mampu membantu materi tapi kita tidak nyaman diajak bicara maka orang hanya mengenal harta kita. 

Walau kita hanya membantu seadanya tapi kita rendah hati, tidak menyindir, menertawakan kealpaan orang lain..itulah pribadi yang nyaman. Saat kita mampu membahagiakan orang lain, kita pasti ikut bahagia walaupun uang kita jumlahnya biasa saja.

bayi

Kita tidak ingat semasa bayi dulu, yang kita tahu bayi itu menangis jika menginginkan sesuatu. Lapar haus, kedinginan, ternyata penglihatan bayi itu masih rabun, dia mengenal bundanya hanya dengan membauinya. 
Saya ingat putra pertama saya waktu masih berusia beberapa hari, fesesnya berwarna kuning cair kadang putih. Mertua kakek nenek sepupu semua menyayanginya. Siapa yang paling sayang? Tentulah bundanya. perhatian sang bunda selalu tersita oleh bayinya.

Bayi masih polos sekali bersih tanpa dosa, jika mereka tumbuh besar hingga dua atau empat tahun masih lucu belum suka membantah orang tuanya. Sebagai orang tua selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi balita kita dari mulai pakaian, makanan, susu hingga mainan dan sepeda.

Jika anak sudah memasuki sekolah dasar tentunya kita tidak akan terlalu memanjakannya, tidak semua keinginan kita penuhi. Saat mereka ingin mainan “tamiya” misalnya padahal dikamarnya sudah menumpuk mainan kita katakan itu “mubazir/tidak bermanfaat, kan kaka/dede sudah punya”. Semakin dewasa anak memiliki pikiran dan keinginan sendiri, mulai membantah, melawan orang tua, dan orang tua pun bisa saja keceplosan mengutuk anaknya saking kesal/sakit hati.

Banyak orang tua yang takut pada anaknya, saat orang tua perlu diantar membawa barang dsb sibuk mencari supir padahal anaknya yang sudah menikah itu santai-santai saja tidak ada acara. Ada bekas istri/suami tapi tidak ada bekas ayah/ibu, artinya pengabdian anak pada orang tua itu harus abadi. Jika anak mengabaikan…yakinkah anda bahwa anak itu oke-oke saja dia akhirat nanti?
Copyright © taman senja. All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design