monolog blog

Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

akhir zaman

Katanya kami hidup di ujung jaman, cirinya kami berbeda-beda dan merasa paling benar. Jangankan dengan atheis, seagamapun bisa saling fitnah.
 “benar salah itu harus versi Tuhan”
“benar salah itu bisa versi manusia”.
“harus patuh pada pemimpin selama tidak mengajak kerusakan”
“tidak wajib patuh pada hukum buatan manusia”.

Korbannya adalah orang awam, remaja dan cucu-cucu kami. Mereka tidak tahu pelajaran, hiburan, berita  itu bermanfaat atau tidak. Rakyat pintar bisa saja dibodohi apalagi rakyat sedikit pintar.
Pemuka agama berfatwa dibenci, seniman nyeleneh disukai, pemuka agama dipenjara tidak peduli.
Mengaku budayawan tapi merendahkan martabat
Mengaku cendikiawan tapi memusnahkan peradaban

Ilusi demokrasi....
Kami  memilih pemimpin yang  terlihat baik tapi apakah kawan-kawannya baik?
Kami memilih pemimpin yang terkesan jagoan tapi bisa saja banyak penjahat yang berlindung padanya.

Katanya Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda untuk saling mengenal tapi seringnya perbedaan malah memisahkan.

Waspadalah  oleh tren yang terjadi dan prestasi-prestasi kecil dari dusta besar.
Pembunuh berjanggut adalah virus harus diberangus mati disebar dimedia.
Menjual kekayaan alam dengan licik, membiarkan rakyat hidup seadanya, bukankah pembunuh bangsa?

Muslim percaya, Tuhan itu Allah swt. KuasaNya mampu mengubah nol menjadi satu, kosong menjadi isi, ghaib menjadi rupa tanpa terikat hukum alam, waktu atau unsur apapun hanya dengan “kunfayakun” jadilah....karnanya semua ini ada Hakimnya, tak ada satu atompun yang tak diketahuiNya.

Muslim itu tidak akan bermain-main dengan amanah dan ancaman Allah swt.
Muslim itu tidak akan menukarkan akidah dengan alasan devisa, kearifan lokal. Apalah artinya disebut arif skala lokal tapi porno, vulgar, mubazir, hina secara semesta.
Muslim itu siap ditinggalkan, dikucilkan, toleran bukan kebablasan, memegang kebenaran bahkan dengan geraham apapun resikonya.
Muslim itu tidak menertawakan kebodohan atau tertawa bersama orang bodoh apalagi tertawa karna berhasil membodohi bangsanya.
Muslim itu mengejar ilmu agar bisa menentukan mana manfaat mana mudharat.
Muslim tahu pasti mana harta fana mana siksa selamanya.

Apakah iman kami kuat sehingga kami diberi ujian fitnah ini?
Apakah dosa kami begitu berat sehingga pantas menikmati huru-hara akhir jaman?

saturday alay

Kau masih menjadi inspirasi jari ini menari
Kau masih menjadi mentari hati ini memuji
Matamu masih menjaga mataku terjaga
Senyummu masih inspirasi dikamarku tersenyum


Dipertemukan dipisahkan
Mencintai tak bertepi
Harapan tak tersampaikan
Merindukan tak terbalaskan


Jika kau ombak, aku karang yang rela terkikis
Jika kau mentari, aku daun yang rela layu
Jika kau angin, aku ranting yang rela terserakan


Sekejap aku menatapmu, selamanya kau membayangiku
Sekejap kau berujar, selamanya kurekam nada suaramu
Cantik...pantaskah aku mendampingimu?
Sayang ...pantaskah aku memilikimu?



Aku bertaruh tak ada seorangpun mampu menyelinap
Mencari celah di hatimu yang retak
Mobil yang saat ini kau duduki
Kuyakin sosok sebelahmu tak sepenuh hati kau cintai


You still the star that i’m waiting for
I’m still the moon that you’ve been seaching for
Hanya saja berputar di garis edar yang berbeda

Jujurlah dan camkanlah
Jawablah pada dasar hatimu
Kau tak bisa lari sayang
Api cinta tak bisa padam sayang

Karna dihatimu ada aku

tersisih

Jangan merasa tersisihkan
Jika dirimu kuabaikan
Jangan merasa dinomorduakan
Jika urusanku aku utamakan


Tak usah bersolek berlebihan
Itu tak akan menambah cintaku padamu
Tak usah ingin menjadi seperti orang lain
Kau malah asing nantinya
Tak usah melayaniku jika kau letih..istirahatlah
Itu tak akan mengurangi cintaku padamu


Jangan rekam wajahku saat marah
Jangan pendam ucapanku saat marah
Aku bertakbir berarti aku ingin lurus
Lurus berdampingan dengan siapa lagi selain dirimu


Percayalah...
Saat aku di jalan, aku cemas meninggalkanmu
Saat kita jauh, aku iba mengingatmu letih membantuku
Saat aku pulang, aku malu bila tak membawa sesuatu untukmu


Saat aku memiliki rezeki kuingin pergi hanya denganmu
Saat aku bermimpi pergi berlibur, kuingin kau memimpikan hal yang sama
Saat kita menepi di tempat indah, kuingin seperti itulah ikatan cinta kita


Kuakui ada bunga-bunga yang kulihat dan membuatku terpikat
Namun jikapun ada kesempatan, seberapa berani aku melangkah jauh?
Jika diberi kemudahan, seberapa tega aku meninggalkanmu sendirian?



Tak akan kulepas taman kecil indah ini untuk sebuah bukit yang aku tak tahu cara merawatnya.
Bisa saja aku menggigil karna kerasnya terpaan angin dan merindukan pelukan seerat kau mendekapku.
Aku manusia sederhana sekali dalam raga rupa dan harta
Tak perlu kau cemburui tentang cinta dan rasa

clearly

Mengayun langkah melaju
Rindu tumpah tak tentu arah
Letih menyentuhmu indah


Kata-kata selalu berserakan
Sayangnya tak kau indahkan
Mutiara itu sayang
Bukan pujian sembarangan

Jika tulisanku asal-asalan
Mengapa selalu tercipta bila ada bayangmu?
Jika kau tak berarti apa-apa
Mengapa rasa ini tak kunjung reda?


Apakah setan memoles wajahmu?
Seakan kau utusan menuruni pelangi
Saat mataku tertutup
Kaulah memaksa hatiku terbuka


Sometimes atau malah sering
Aku bagai bocah yang baru bisa menulis
Dan selalu ingin dipuji bundanya
Riang dan bangga jika kau diam-diam membacanya

Jutaan manusia bisa saja berucap ini basi
“i love you” but beranikah aku ucapkan clearly dihadapanmu?

lain dunia

Aku tak memaksa diri tuk melupakanmu
Hari, bulan dan tahun berganti
Kau malah berkarat lekat dihati
Kau bayangan tak mungkin pergi

Entah kini kau dimana
Karna jauhlah aku merasa dekat

Saat bersamaku
Apakah itu sejarah membanggakan dalam hidupmu?
Atau aib memalukan yang ingin kau bakar?

Maaf aku lancang mengetuk pintu hatimu
Merebah diri tanpa permisi
Aku terpukau dengan hamparan hiasan dalam hatimu
Ingin aku memegang walau mungkin aku tak layak

Maaf aku lancang mengacak serat otakmu
Tak tahu menyusun kembali
Mungkin aku bukan sosok impian
Elang perkasa yang mengangkasa
Aku hanyalah ikan kecil
Aku akan mengajakmu menyusuri indahnya samudra

Sudah biasa aku sunyi sendiri
Sudah biasa aku hidup apa adanya
Tapi kita sama ciptaanNya

Saat langit berganti warna
Bumi berganti nama
sungai mengalir manis
Buah dipetik mudah
Kupinta pada Sang Pencipta
Untuk milikimu selamanya

darkest sea

Aku pasrah mengikuti arah
Entah…ini pilihanku atau angin kuat menerpaku tak berdaya
Engkau mulanya bagai pantai cantik
Hati menderu ingin melirik

Dan akupun beranikan diri membasahi diriki pada pantaimu
Menyelam dalam samudramu
Semua bagai mimpi….tak pernah aku berada dalam situasi ini….
Cinta….dengan mudahnya aku umbar

Akankah aku terbangun dan tak bisa kembali?
Kenangan..dan hanya mampu mengenang?
U ….the darkest sea I ever see
Aku terkoyak….gelap…pengap…..ditinggalkan dalam dahsyatnya pusaran samudramu

sesat

Berdiri kami bertepuk tangan
Memuja pemantra zinah
Mengantri ingin dipuji juri
Berebut ingin jadi idola


Ribuan orang ingin jadi juara
Jalan pintas menuju kaya
Tak masalah pamer perhiasan
Yang harusnya jadi kado pernikahan


Kemanakah manusia saat salat lima waktu?
Berebutkah menuju pengeras suara?
Kampungan menjadi pelantun adzan?
Saling enggan menjadi imam


Pelantun zinah menebar mimpi
Terdengar indah racuni hati
Penceramah terdengar basi
Jamaah tak ingin jannah lupa kembali


Kitab suci
AncamanMu aneh
JanjiMu tak menarik
SurgaMu tak dirindukan


Yang halal kami haramkan
Yang sunnah kami matikan
Budaya begitu dipuja
Layar kaca jadi kacamata


Yang keji kami bebaskan
Yang nista kami sediakan
Pembuka aurat kami lindungi
Pecandu syahwat kami naungi



Ibadah formalitas tak berbekas
Menggugurkan tugas tanpa kualitas
Lancangnya kami menendang tiang arsyMu
Menginjak syariatMu


Pantaslah kami tak merasa kehadiranMu
Pantaslah kami tak merasa diawasi
Malangnya kami tak dicintai

thousand pearls

Pandanganmu bagiku sapaan
Senyummu bagiku undangan
Ajakanmu bagiku janji

Aku melesat ke awan
Kaku, tersipu temui bidadari
Pastilah mudah bagimu
Menebak hatiku

Saat kau tahu dalam diriku tak ada lagi yang ingin kau tahu
Saat kau menyadari dalam diriku tak ada yang kau cari
Apa bayanganmu?
Bukan urusanku?
Cintamu bagai tulip, eksklusif tak bisa tumbuh di sembarang tempat

Who do you love?
When love has gone or never grow at all
A thousand pearls can change your beauty

Do you feel alone?
When you can’t hear my sound
Who do you dream on?
Now i can move on

When care not cure
From the love that pure
The space so empty
Alhtough thousand stars seen clearly
Your angelic voices are ended
With love that blinded


Taman? Ranting? Air, Mentari? Bukankah kalian dulu saksi dan mewarnai cinta kami?
Angin? Bukankah kau dulu malu-malu untuk menari bersama mahkotanya? Kenafa eh kenapa kau diam kini?
Sengajakah kalian diam? Mengusung keranda hati ini?

Udara semakin membeku
Sebeku senyum palsumu
Aku sesak untuk menoleh
Menyadari langkahmu menjauh dariku

cinta

Mendengar kata cinta?
Senyum atau sinis?
Yang sinis? Mmm belum bisa mup on
Yang senyum? Itulah orang sok bijak ^_^


Saya bukan nice person to talk
Atau romantic men to love
Bukan juga hypnotic intelligent to discuss
I’m only ...dipercaya sukur ga di denger ywdah ^_^


Setiap takdirNya saya percaya itulah cintaNya
segersang-kerontangnya tempat, saya percaya ada air

Teman, sahabat, special mate, datang silih berganti
Walau semua temporary tapi sambung menyambung mengisi kosongnya hati


Orang yang saya tak bisa lupakan mungkin sekarang tak mengingat saya lagi
Orang yang dulu saya pikirkan sekarang malah tak ingin mampir walaupun dekat
Orang yang dulu selalu mengisi otak
Mungkin sekarang sedang mengisi cangkir teh untuk kekasihnya ...aduh


Tapi kita pernah merasa sangat nyaman pada suatu tempat dan waktu itu sudah cukup
Bersyukur telinga saya pernah dipercaya
Senang ucapan saya pernah berbekas
Tanpa melewati itu semua saya tak akan terinspirasi dan berpikir seperti ini

Naon sih ^_^

egois

Liburan jalan-jalan
Jalan jadi hiburan
Bbm-an undang kawan
Beriringan berombongan


Roda dua tiga dan empat
Sopir angkot ikut mengumpat
Metromini ugal-ugalan
Bis propinsi raja jalanan


Anak muda jangan tawuran
Kepala empat kekanak-kanakan
Orang nyebrang tak ada jalan
Ambulanpun bukan hambatan


Motor kecil ingin besar
Motor besar kepala kecil
Motor kecil suara besar
Motor besar moral kerdil


Mobil balap katanya mahal
Nafsu balap mental murahan
Balapan bukan di lintasan
Nyawa orang dianggap murahan


Korban berjatuhan saat liburan
Apalagi mudik lebaran
Semua maksa punya kendaraan
Banting tulang potong gajihan


Roda dua biang kemacetan
Mobil antik disebut rongsokan
Angkutan kuno masih dijalanan
Trem hanya khayalan


Bbm habis bukan masalah
Gua mampu beli situ yang pusing?
Kuras bumi tak peduli generasi nanti
Greenpeace dijempol sehari-hari dodol


Jangan mimpi ada taman kota
Apalagi danau bertepi lapang bola
Tak ada tempat asuh balita
Kalaupun ada dipakai kaki lima

Taman kota bertiang tinggi
Mau masuk haruslah antri
Kebun binatang singanya kurus
Hewan lain tak terurus


Walikota dapat adipura
Padahal trotoar belasan tahun dikuasai kaki lima
Jutaan lulus perguruan tinggi
Jutaan manusia tak manusiawi


Hukum bagai senjata pajangan
Menikam kasta rendahan
Uang dipertuhankan
Tuhan enggan memberi bimbingan

side of me

Hatiku luas bertingkat

Ada satu..kunamakan “taman hening”
Satu kolam
Bukit  kecil
Semak belukar melingkar
Ranting-ranting patah

Kupinta bidadari  dalam doa dan….kau datang
Indahmu…cantik serasi bersanding di tamanku
Mahkotamu  bak perak dalam pantulan
Sparkling matamu bak kunang kemayu manja berpijar
Tak ada liontin, permata yang kau kenakan
Namun dimataku…kau untaian mutiara hujam mata terpana

Kau mentari taman ini
Dan aku rembulan
Senja kau pamit
Entah esok pagi…
Semakin jarang kau kemari
Semakin sering kumenunggu

Kolam ini adalah saksi saat…. 
Kelam menjadi cahaya karna cinta
Sunyi menjadi suara karna cinta
Gundah menjadi gempita karna cinta
Jutaan warna menjadi dunia
Dua warna menjadi satu cinta
Namun…………..

Harapan dan kenyataan menjauh bersebrangan

Hening aku disini 
Menjaga tamanku
Dengan atau tanpamu

Copyright © taman senja. All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design